SUARAJABARSATU.COM | Bogor – Penyakit flu burung (Avian Influenza) masih menjadi ancaman yang signifikan bagi dunia peternakan unggas di Indonesia. Namus selain AI, ada beberapa ancaman lagi yang dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar, baik melalui kematian ternak unggas yang tinggi maupun penurunan produksi.
“Ancaman tersebut diantaranya adalah penyakit ND (Newcastle Disease), Gumboro (IBD), CRD (Chronic Respiratory Disease), Pullorum, dan lain sebagainya. Munculnya berbagai macam ancaman tersebut membuktikan pentingnya dukungan terhadap Pemerintah untuk pencegahan, pendeteksian dan respon cepat dan tepat terhadap ancaman-ancaman tersebut. Salah satu upaya dukungan tersebut, mulai tahun 2017, Food and Agriculture Organization (FAO) bersama Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI) mengadakan serangkaian pertemuan yang diharapkan dapat mengkompilasi praktik-praktik terbaik yang paling relevan dengan kebutuhan perunggasan di Indonesia sehingga terjadi peningkatan kapasitas profesional kesehatan unggas pre-service (pendidikan di universitas) dan in-service (petugas kesehatan unggas dan dokter hewan perunggasan),” ujar drh. Wisnu Jaka Dewa, M.Sc,. Tim Pembuat Modul BBPKH, Senin (28/01/2019).

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan-pertemuan tersebut, sebuah lokakarya diadakan pada tanggal 24-25 Januari 2018, di Bogor untuk penyusunan modul pelatihan kesehatan unggas berdasarkan silabus yang tersusun saat pertemuan-pertemuan sebelumnya. Lokakarya tersebut dihadiri oleh perwakilan dari Direktorat Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan (P3H Ditkeswan) – Kementerian Pertanian, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara – Kementerian Pertanian, ADHPI, AFKHI dan FAO. Hadir untuk membuka acara tersebut adalah Direktur Kesehatan Hewan, Bapak drh. Fadjar Sumping Tjatur Rassa, Ph.D.
“Dalam sambutannya, Fadjar menekankan perlunya kerjasama semua lini dalam menangani ancaman-ancaman penyakit perunggasan di Indonesia. Kemudian bahwa dalam pencegahan dan penanganan penyakit unggas juga perlu di fokuskan ke manajemen pemeliharaan unggas, karena seringkali timbulnya penyakit-penyakit di peternakan adalah akibat kesalahan manajemen pemeliharaan di peternakan. Fadjar juga berharap modul-modul yang disusun dalam Lokakarya ini dapat diimplementasikan untuk peningkatan kapasitas profesional di bidang perunggasan, baik di lembaga pendidikan seperti Universitas maupun di lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat), khususnya di BBPKH Cinagara yang merupakan satu-satunya lembaga diklat kesehatan hewan di Indonesia,” ujar Wisnu.
“Lokakarya selama dua hari tersebut menghasilkan lima modul pelatihan kesehatan unggas yang nantinya akan digunakan untuk pelatihan di bidang kesehatan unggas, yaitu (1). Penyakit Unggas Penting (gejala klinis, diagnosa, pencegahan, pengendalian); (2). Biosekuriti (prinsip, kontrol hama & vektor, risk assesment); (3). Vaksinasi (prinsip, jenis, persyaratan, rantai dingin, standar & metode); (4). Penanggulangan Wabah (deteksi, identifikasi, karantina dan isolasi) dan (5) Gangguan Kesehatan akibat Kesalahan Manajemen (pengantar manajemen dan jenis penyakit). Namun mengingat luasnya cakupan materi untuk peningkatan profesionalisme di bidang perunggasan, diharapkan nantinya akan ada pertemuan atau lokakarya selanjutnya untuk penyusunan modul pelatihan yang lain,” tutupnya.









