Ridwan Kamil Ajak Milenial Lebih Peduli Permasalahan Bangsa

SUARA JABAR SATU.COM | JAKARTA — Negara harus terus berinovasi agar selalu relevan pada kebutuhan zaman yang senantiasa berubah. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengungkapkan hal itu pada kegiatan Milenial Fest, di XXI Ballroom Jakarta Theatre, JMH Tamrin Jakarta Pusat, Minggu (28/10/18) sore.

“Siapa yang berinovasi, dia yang memenangkan pertarungan,” kata Emil, sapaan akrabnya.

Bicara soal Inovasi Birokrasi dan Pemerintahan, Emil mengajak kaum muda milenial untuk peduli, dan jangan cuek terhadap permasalahan bangsa.

Pesan Emil untuk para milenial diantaranya, menjaga ekonomi Indonesia agar tidak turun dari angka 5 persen: dengan memanfaatkan produk- produk lokal, dan mengurangi transaksi yang “mengandung” unsur dolar.

Selanjutnya, Emil ingin milenial kompetitif, punya skill dan mengembangkan diri sesuai minat, dan tuntutan jaman. Kemudian, Gubernur yang aktif di sosial media ini mengajak milenial untuk melek politik, demi terciptanya demokrasi damai dan kondusif.

“Mimpi kita tidak akan terpenuhi kalau kaum milenial masih krisis sosial politik dalam demokrasi,” katanya.

Ini penting, sebab mengutip survey McKinsey, Indonesia berpotensi untuk menjadi negara hebat pada tahun 2045 mendatang. Sehingga, anak muda milenial sebagai bonus demografi, wajib komptetitif dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. Inilah syarat utamanya.

Maka Gubernur Emil, mengajak para milenial untuk meningkatkan kualitas toleransi dan kepedulian diantara keberagaman masyarakat yang menjadi latar belakang bedirinya bangsa Indonesia.

Ada tantangan yang disampaikan Emil kepada para milenials yang memadati gedung.  Saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah memulai program  “One Village One Product,” atau satu desa, satu perusahaan, satu produk.

Emil menantang milenial untuk menuangkan kreasi, inovasi, dan kreativitasnya untuk mendorong program tersebut.

“Di era milenial, ada ruang pasar yang luas bagi produk-produk yang diciptakan di desa tersebut. Yakni ruang e-commerce, ataupun financial technology yang bisa para milenials kembangkan,” katanya.

Ini terinspirasi, katanya, dari hasil survey di lapangan yang menjadi potret petani Indonesia. Ia menyebutkan petani beras misalnya, hanya menjual berasnya sekitar Rp4.000, sementara di kota harga beras bisa mencapai Rp12.000. Ada selisih Rp8.000 yang tak bisa dinikmati petani. Ia ingin petani bisa menjual dan mendistribusikan hasil panennya menggunakan teknologi.

Ia ingin petani beras Indramayu itu bisa memanfaatkan zaman. “Kami ingin mereka (misal) menerima orderan online, dengan packaging yang mantap, panggil transportasi online untuk pengirimannya,” kata Emil memberi contoh./Ratu.-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *