SUARAJABARSATU.COM | Bogor – Usaha untuk meningkatkan kualitas air susu dapat dilakukan melalui manajemen peternakan, manajemen pakan, dan manajemen pemerahan yang baik sehingga sapi perah dapat melakukan proses produksi yang teratur agar menghasilkan air susu yang berkualitas tinggi dan memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh SNI 01-3141-1998. Kondisi dilapangan Peternak sering mengalami kendala pada saat penyetoran air susu di KUD. Adapun kendala yang sering dialami yaitu pengetahuan tentang standarisasi kualitas air susu dan hasil pemerahan yang tidak stabil(kuantitas). Salah satu yang menentukan harga jual air susu antara lain kadar lemak dan bahan kering tanpa lemak (kualitas susu). ujar drh. E Nia Setiawati, MP., Widyaiswara BBPKH, Rabu (27/02/2019).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produksi air susu diantaranya adalah : jumlah dan kualitas pakan, bulan laktasi,faktor hormonal, fase laktasi dan bangsa sapi perah pada kondisi yang sama. Hormon yang berperan dalam produksi air susu adalah hormon prolaktin. Produksi air susu akan terus meningkat hingga mencapai puncak produksi air susu yaitu pada periode laktasi ke-4 yang selanjutnya akan menurun sesuai dengan periode laktasi berikutnya. Hal ini disebabkan oleh kerja hormon yang sudah mulai berkurang, seperti hormon prolaktin sebagai hormon yang memproduksi air susu, hormon oksitosin sebagai hormon pengeluaran air susu dan hormon progesteron yang berperan terhadap pertumbuhan dan ukuran alveoli terhadap fungsi jaringan mammae untuk sekresi air susu. Pakan campuran hijauan dan konsentrat memiliki nilai gizi yang lebih baik daripada pakan hijauan saja. Energi yang terkandung dalam ransum dapat mempengaruhi produksi air susu. Ransum dengan energi tinggi dapat meningkatkan produksi air susu. Ransum sapi perah yang hanya terdiri dari hijauan saja akan sulit mencapai produksi air susu yang tinggi. Ujar Nia
Kuantitas dan kualitas air susu dapat diperbaiki dan dipertahankan melalui memaksimalkan konsumsi pakan, pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan ternak, pemberian energi pakan (karbohidrat dan lemak, protein,serat, mineral dan vitamin) dan nilai energi dari hijauan yaitu 1994,89 Kcal/kg masih belum mampu menaikkan produksi air susu secara maksimal. Kadar protein air susu memiliki hubungan dengan kadar bahan kering yang terdapat dalam ransum. Konsumsi bahan kering ransum dengan kadar protein air susu memiliki hubungan yang positif, yaitu peningkatan konsumsi bahan kering ransum akan meningkatkan kadar protein air susu yang berasal dari pakan hijauan dan konsentrat yang diberikan. Kandungan serat kasar ransum sapi perah tidak boleh kurang dari 13% karena dapat menurunkan kandungan lemak air susu yang dihasilkan. Kadar. Lemak air susu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : 1) Makanan, kadar lemak yang tinggi dalam makanan dapat meningkatkan kadar lemak air susu yang dihasilkan, 2) Pengaruh iklim, pada musim dingin kadar lemak air susu lebih tinggi, 3) Waktu laktasi dan prosedur pemerahan, setelah lima hari pemerahan kadar lemak air susu akan meningkat 4) Umur sapi, makin tua umur sapi maka akan rendah kadar lemak air susu yang dihasilkan, 5) Waktu pemerahan, kadar lemak air susu pagi lebih tinggi dibanding air susu sore.
Untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas air susu yang memenuhi standar SNI, maka peternak harus lebih pintar dalam manajemen peternakan, manajemen pakan dan manajemen pemerahan air susu sapi perah agar mendapatkan kuantitas dan kualitas yang diinginkan. Semoga tulisan ini bermafaat bagi peternak sapi perah , sehingga usaha peternakan sapi perahnya dapat meberikan keuntungan optimal. Tutup Nia
KIAT MENINGKATKAN KUANTITAS DAN KUALITAS PRODUKSI SUSU SAPI PERAH





