SUARA JABAR SATU.COM | DEPOK – Penyelenggaraan Santunan Yatim Piatu di SDN Bedahan 4 Sawangan, berjalan sukses dan lancar pemberian santunan ini terselenggara dengan baik atas inisiatif Kepala Sekolah dan Dewan Guru beserta partisipasi Nasam Ketua Komite Sekolah dan orang tua murid, tak tertinggal juga simpati dari guru SDN Mampang 3 yang juga ikut meramaikan penyelenggaraan santunan yatim Piatu dengan memberikan sumbangan. Bedahan Depok Sabtu (13/10).

Dodi selaku Kepala Sekolah SDN Bedahan 4 dalam sambutannya menyampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada seluruh penyelenggara dan undangan yang hadir, khususnya Ketua Panitia berserta Dewan Guru yang sudah bekerja keras mensukseskan acara santunan ini.
“, Santunan ini baru dapat dilaksanakan mengingat juga dilingkungan melaksanakan acara yang sama, sehingga SDN Bedahan 4 baru bisa dilakukan,” Ujar Dodi Kepala Sekolah SDN Bedahan 4.
Lanjutnya lagi,” Rasa hormat saya yang setinggi-tingginya kepada orang tua murid yang telah menyumbang dalam bentuk makanan, supermi, aqua dan lainnya, serta sumbangan dari guru SDN Mampang 3 yaitu Ma’mun selaku pembina musik meminjamkan perlengkapan music dengan personilnya siswa-siswi SDN Mampang 3, semoga mendapat keberkahan dari Alloh SWT, ” papar Dodi.
“Aku dan pemelihara anak yatim, akan berada di surga kelak,” sabda Nabi Muhammad SAW, sambil mengisyaratkan dan mensejajarkan kedua jari tengah dan telunjuknya dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari. Dari hadis tersebut, Nabi Muhammad SAW, memiliki perhatian yang sangat besar kepada yatim piatu.
Ketua Panitia Moh. Satiri menyampaikan acara ini adalah bagian dari program setahun sekali Sekolah SDN Bedahan 4 Sawangan dan berkelanjutan, dan kepada pihak-pihak yang telah membantu semoga dapat terjalin dimasa-masa akan datang.
Kesadaran kita untuk saling berbagi, tidak saja merupakan sikap mulia yang diajarkan agama. Lebih jauh dari itu, pikiran dan naluri manusia sebagai makhluk sosial selalu menuntut kita untuk bersikap peduli terhadap segala penderitaan, kekurangan dan keterbatasan yang dirasakan sesama. Ada sisi lain dari bathin kita yang ikut menderita atau merasa bersalah ketika kita memiliki dan merasakan kemudahan hidup dengan berbagai fasilitasnya, sementara di saat yang sama kita tahu, ada di sekitar kita yang bahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok pun terasa sulit.
Setitik cahaya menjadi harapan kita bersama, ketika naluri kesadaran kita tergerak untuk melakukan amal nyata, dengan berbagi terhadap sesama, semakin kita menyadari hak orang lain dan kita merasa harus memberikannya kepada yang berhak menerimanya.









