Diet tinggi protein tingkatkan risiko gagal jantung

SUARA JABAR SATU.COM | – Diet tinggi protein hewani seperti diet keto dan Atkins yang populer belakangan ini ternyata bisa meningkatkan risiko gagal jantung. Bahkan, diet tinggi protein nabati pun bisa sedikit meningkatkan risiko. Begitu kata peneliti Finlandia dalam studi baru.

Menukil Quartz, diet tinggi protein tercatat mencapai tingkat popularitasnya sejak tahun 70-an lewat diet Atkins yang berhasil membantu banyak orang menurunkan berat badan dengan cepat.

Pada April 2018, juga lahir diet Dukan dengan konsep serupa, menekan asupan karbohidrat dan memperbanyak konsumsi protein.

Secara teknis, diet Atkins dan diet keto yang tinggi lemak bukanlah diet protein tinggi. Akan tetapi para pengikutnya sering kali berakhir mengonsumsi banyak protein.

Meskipun diet-diet itu populer, penelitian tentang bagaimana mereka memengaruhi kesehatan jantung relatif kurang. Karenanya, tim peneliti dari University of Eastern Finland menjadi salah satu yang memelopori studi untuk melihat hubungan antara diet protein tinggi dan gagal jantung.

The Independent menulis, gagal jantung merupakan suatu kondisi ketika otot jantung tidak mampu memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan normal tubuh, sehingga kesehatan memburuk dan berakibat kematian.

Studi baru yang diterbitkan oleh American Heart Association dalam jurnal Circulation: Heart Failure ini dimulai pada tahun 1984, dengan melibatkan 2.441 laki-laki paruh baya dan lebih tua berusia 42-60 tahun.

Para responden dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan berapa banyak protein yang mereka makan. Jenis protein mencakup produk susu, protein hewani dan nabati, juga sumber protein lainnya.

Rata-rata kelompok terendah mengonsumsi sekitar 78 gram protein sehari, dan kelompok tertinggi mengonsumsi 109 gram sehari.

Kemudian, tim peneliti melacak konsumsi protein harian responden lewat pengisian kuesioner selama empat hari pertama studi, dan dilanjutkan hingga 22 tahun berikutnya.

Selama itu, peneliti juga menyoroti seperti apa dan bagaimana tiap jenis protein bisa memengaruhi risiko jantung.

Secara menyeluruh, peneliti menemukan bahwa ada sekitar 334 responden didiagnosis gagal jantung sepanjang penelitian. Selain itu, sebanyak 70 persen protein yang dikonsumsi responden berasal dari hewan, dan 27,7 persen sisanya bersumber dari tanaman.

Lebih lanjut, peneliti membandingkan asupan protein kelompok tertinggi dengan kelompok yang lebih rendah. Mereka mendapati bahwa orang-orang yang makan semua sumber protein berisiko 33 persen lebih tinggi mengalami gagal jantung.

Untuk protein dari produk susu dan hewani, masing-masing berisiko 49 persen dan 43 persen lebih tinggi, sedangkan mereka yang mengonsumsi protein nabati berisiko 17 persen.

Sebagai pengecualian, hanya protein dari ikan dan telur yang tidak terkait dengan risiko gagal jantung.

“Karena banyak orang tampaknya mengambil manfaat kesehatan dari diet protein tinggi begitu saja, penting untuk memperjelas kemungkinan risiko dan manfaat dari diet ini,” kata Dr Jyrki Virtanen, profesor nutrisi epidemiologi sekaligus penulis utama studi dalam pernyataan.

Di satu sisi, tim peneliti mencatat bahwa diperlukan studi lebih lanjut untuk mengonfirmasi temuan.

Pertama-tama studi ini tidak bisa digunakan untuk menentukan apakah mengubah jumlah asupan protein bisa mencegah gagal jantung. Pun belum tentu berlaku sama terhadap perempuan, ataupun seluruh golongan usia.

Lalu, seperti ditulis Forbes, selain studinya kecil para responden juga tidak dilacak secara berkala. Boleh jadi ada faktor lain seperti kekurangan nutrisi yang turut memengaruhi kesehatan jantung.

Di sisi lain, studi baru juga menambah daftar panjang dari penelitian-penelitian sebelumnya yang mengungkap bahwa diet tinggi protein–terutama dari sumber hewani–tidak ideal dan bisa meningkatkan risiko penyakit.

Satu studi pernah menemukan bahwa mengonsumsi makanan berprotein tinggi terkait dengan peningkatan risiko kanker, diabetes, dan kematian. Riset lain terhadap perempuan menemukan bahwa konsumsi protein tinggi membuat kadar insulin sulit membaik, meskipun berat badan sudah turun.

Bahkan, ada juga penelitian yang mengaitkan protein hewani dengan risiko jantung perempuan yang lebih tua.

Kendati begitu, dua ahli dalam Live Science menyimpulkan pesan penting dari studi ini, bahwa diet seimbang yang tinggi sayuran dan biji-bijian cenderung memberi hasil yang lebih baik bagi kesehatan jantung ketimbang diet yang berfokus pada konsumsi protein.

Untuk mengurangi risiko dan sebagai pencegahan, American Heart Association merekomendasikan pola diet yang mencakup berbagai buah dan sayuran, biji-bijian, produk susu rendah lemak, unggas, ikan, kacang-kacangan, serta membatasi asupan makanan dan minuman manis, juga daging merah.

Mengutip Express.co.uk, Anda juga bisa mengurangi risiko dengan mengonsumsi lebih banyak tomat. Tomat kaya antioksidan lycopene, yang membantu memangkas LDL atau kolesterol jahat. Tomat pun bisa membantu menjaga pembuluh darah tetap terbuka, dan rendah gula.

Selain itu, memperbanyak olahraga yang dimulai dengan aktivitas ringan naik turun tangga beberapa kali sehari atau berjalan-jalan sebentar juga disarankan.//PUT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *