SUARA JABAR SATU.COM | – Zaman sekarang, kaftan dikenal sebagai busana perempuan yang telah mendunia dan kental dengan unsur representasi budaya Timur Tengah.
Umumnya, perempuan di Indonesia mengenakan kaftan sebagai busana untuk menghadiri acara-acara formal dan Hari Raya. Namun, tak sedikit juga yang menggunakannya sebagai busana sehari-hari.
Busana perempuan yang berasal dari Maroko, Afrika Utara, ini hadir dalam ragam rancangan yang berbeda-beda, mulai dari gaya kasual sampai dengan konsep adibusana yang mewah.
Dahulu, kali pertama banyak orang mengenal kaftan adalah pada abad ke-16 dan berasal dari Maroko.
Namun, sebenarnya kaum perempuan di Timur Tengah dan Persia sudah lebih dulu membalut tubuh mereka dengan kaftan.
Pada abad kesembilan, kaftan mulai dikenal oleh segelintir kelompok sosial di Andalusia, Spanyol, melalui orang-orang Timur Tengah yang mengungsi ke Eropa.
Orang-orang di zaman ini tidak mengenal istilah kaftan, hanya sebatas busana tradisional berukuran longgar untuk perempuan muslim.
Kala itu, kebanyakan kaftan dibuat dari material berbahan seperti sutra, wol, kapas yang diikat menjadi seperti selempang.
Namun, inkuisisi Spanyol yang menyebabkan pengusiran kaum muslim dan Yahudi menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk dalam jumlah besar dari Andalausia ke pinggiran Maroko.
Kaum perempuan muslim yang turut pindah tempat tinggal tersebut setia mengenakan kaftan sebagai busana setiap hari.
Beradaptasi tinggal di daerah baru, para perempuan muslim pengungsi pun mengisi waktu dengan menjahit kaftan menggunakan benang sutra dan kain halus.
Selain itu, mereka pun menambahkan aksen payet, benang emas, dan bebatuan untuk mempercantik pesona kaftan.
Gerakan pengungsian inilah yang menjadikan Maroko akhirnya dikenal sebagai negara asal terciptanya kaftan.
Hal menarik terjadi pada abad ke-14 hingga ke-18 saat kaftan yang awalnya merupakan busana perempuan bertransformasi menjadi pakaian yang juga dikenakan oleh kaum adam, tentunya dengan bahan dan potongan yang berbeda.
Pada masa itu, sultan-sultan dinasti Ottoman menggunakan menjadikan kaftan berornamen mewah sebagai pakaian sehari-hari. Bahkan, mereka juga memberikannya sebagai hadiah tertinggi untuk para pejabat dan jenderal yang berjasa dalam pemerintahan.
Seiring waktu, semakin banyak pedagang Maroko merantau ke daratan Eropa dan Amerika Utara untuk mencari peruntungan baru.
Kaftan yang dikenakan oleh para pedagang tersebut pun mencuri perhatian dalam cakupan yang lebih luas.
Kesan eksotis dan otentik kaftan menebarkan daya tarik tersendiri di mata orang-orang Eropa dan Amerika.
Ketertarikan tersebut ditangkap oleh pedagang Maroko sebagai peluang bisnis, mereka pun mencoba menawarkan dan menjual kaftan, meski tak mendadak laris manis, tetapi pangsa pasarnya jelas ada.
Kecantikan kaftan muncul lebih gemerlap dalam dunia mode ketika perancang adibusana asal Perancis, Christian Dior dan Balenciaga, mengadaptasinya sebagai koleksi gaun malam elegan pada awal 1950an dan 1960an.
Selain itu, dua rumah mode ini juga melakukan inovasi minor pada kaftan menjadi sebuah mantel unik untuk musim semi.
Popularitas dan permintaan kaftan terus mengalami peningkatan, terutama setelah majalah mode, Vogue, menampilkan kaftan sebagai busana wajib punya untuk musim panas pada tahun 1966.
Semenjak majalah tersebut beredar, nyaris semua foto bangsawan serta sosialita Eropa di majalah dan surat kabar memperlihatkan mereka berpose berbalut kaftan.
Kaftan dulunya memang dibuat oleh perempuan Timur Tengah berukuran longar. Tujuannya untuk memberikan “ventilasi” agar distribusi suhu udara yang baik pada tubuh sehingga kulit tidak cepat berkeringat dan lembap
Sekarang, orang-orang Eropa dan Amerika justru memanfaatkannya sebagai busana musim panas.
“Kaftan adalah busana yang keren dan memberikan rasa sejuk di bawah matahari yang menyengat. Selain itu, kaftan juga sangat feminin dan orisinal. Bisa dikenakan untuk siang dan malam hari,” jelas Pippa Holt, penata busana profesional, seperti dinukil Vogue.
Mengikuti perkembangan tren, kaftan telah menjadi jenis busana yang terus bertahan diminati banyak perempuan di dunia sampai sekarang.
Sejumlah perancang busana lokal dan mancanegara terus mengeksplorasi keindahan kaftan tanpa menghilangkan unsur serta sentuhan otentiknya.//PUT









