ASOSIASI PROFESI TEHNOLOGI LINGKUNGAN INDONESIA (APTLI) TERKAIT DARURAT SAMPAH DAN SOLUSINYA.
Jakarta, suarajabarsatu.com
Ketua Asosiasi Profesi Tehnologi Lingkungan Indonesia (APTLI) Junifer Panjaitan memberikan keterangan dihadapan insan pers tentang “Nasional Darurat Sampah” di Hotel Swiss-Belinn, Kemayoran, Jakarta. Kamis (29/03/2018) 13.00 WIB.

Dalam sambutan Junifer Panjaitan mengatakan hampir diseluruh tanah air kita ini, permasalahan sampah sudah menjadi sumber bencana, kita sudah merasakan bahwa masyarakat di tanah air sudah tidak peduli dan tidak ada pergerakan terhadap sampah, dalam hal ini kita akan memberikan informasi Dalam Seminar “Darurat Sampah Dan Solusinya, pada 11 april di Hotel Swiss-Belinn, Kemayoran-Jakarta.

” 72 Tahun Indonesia Merdeka, tapi kesadaran akan lingkungan, kebersihan, belum ada pergerakan, kami akan berusaha memberikan masukan kepada Masyarakat, Pemerintah dan Swasta, agar Menjadikan Indonesia negara yang BERSIH dan SEJAHTERAH,” Ucap Junifer Panjaitan Ketua APTLI.
Isu pengelolaan sampah menjadi topik pembicaraan yang sedang hangat dibicarakan. Tidak hanya di Indonesia saja tetapi sudah menjadi permasalahan global dan didiskusikan oleh berbagai kalangan di Dunia . Indonesia masih menganut sistem pengelolaan “kumpul-angkut-buang”. Jadi, tidak ada pengelolaan yang terpadu sehingga sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) yang bisa menyebabkan penyakit dan kerusakan lingkungan lainnya.
Lanjut Junifer Konsep zero waste bukanlah sesuatu yang baru. Konsep ini sudah lama dilakukan oleh negara-negara di Eropa dan Amerika serta dapat menjadi solusi konkret yang dapat diterapkan dalam manajemen pengelolaan sampah. Negara-negara di dunia yang sudah menerapkan konsep ini diantaranya, Amerika, Australia, Swedia, Selandia Baru dan beberapa negara Eropa lainnya, terakhir Singapura.
” Kami punya tujuan agar negara Indonesia negara yang diminati oleh dan dalam negeri, agar Indonesia dapat meningkatkan kelestarian Lingkungan,” tambah Junifer.
Lebih lanjut ahli pakar lingkungan Dr.Ir. Tarsoen Waryono, MSi , menjelaskan secara aspek Strategis Upaya mewujudkan Indonesia yang bersih dari sampah menjadi Zero Wates ditahun 2020.
Asosiasi Profesi Tehnologi Lingkungan Indonesia (APTLI) adalah orang-orang yang mempunyai Profesi tertentu dalam hal ini keterkaitannya dengan Lingkungan, untuk tahap awal pembahasan tentang sampah yang saat ini sudah menjadi Penomena.

Ahli Pakar lingkungan, Tarsoen menyampaikan bahwa kegiatan penanganan sampah yang dilakukan di Ibukota, dan di daerah-daerah sangatlah lambat, jelas sampah adalah sumber penyakit, banyak binatang disana, itu yang menjadikan sumber penyakit. Sudah ada yang menangani ada lembaga dinas SKPD, akan tetapi sampah masih tetap menumpuk.
” Sampai saya mengatakan DKI Jakarta memiliki Jalan yang besar dan panjang berkat Ali Sadikin, Jakarta bebas becak Hijo Royo royo berkico tugas Sutioyoso,” jelas Tarsoen penerima kalpataru itu.
Bantar Gebang luasnya hanya 200 Ha, lima tahun kedepan sudah tidak mampu lagi menampung sampah yang semakin meningkat dari tahun ketahun, sehingga kemana lagi harus dibuang.

Menurut Ahli Pakar Lingkungan Tarsoen Waryono sudah saatnya sampah yang dibuang dikirim ke Muara Gembong, sampah dikumpul de Muara Angke kemudian diangkut ke Muara Gembong dengan menggunakan Tronton, keuntungan hal ini mengurangi kemacetan hingga 40%, juga dampak dari bau jauh berkurang.Tehnologi yang dipakai harus ramah lingkungan dan ini sudah dipakai di 441 kota-kota besar didunia, terkhir singapur.
” Kita ini lebih besar dari Singapur, mungkin duitnya lebih banyak, kenapa tidak mampu mencapai Zero Waste, ini yang akan kita bahas di seminar nanti” ujar ahli Pakar ini.
Sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah kota. Namun sampah juga merupakan tanggung jawab masyarakat penghasil sampah itu sendiri. Perlu adanya kesadaran diri dari masyarakat untuk memperhatikan lingkungannya dan tidak menganggap sepele permasalahan sampah. Karena jika permasalahan sampah ini dibiarkan maka akan menjadi sangat susah untuk diselesaikan.
Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif pengolahan yang benar. Teknologi landfill yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah lingkungan akibat sampah, justru memberikan permasalahan lingkungan yang baru. Kerusakan tanah, air tanah, dan air permukaan sekitar akibat air lindi, sudah mencapai tahap yang membahayakan kesehatan masyarakat, khususnya dari segi sanitasi lingkungan.
” Kalo kita bicara metropolitan, DKI Jakarta belum termasuk Metropolitan, karena hitungnya dari jumlah penududuk, itu kota metropolitan ala Indonesia, kapan kita punya metropolitan, kita benahi satu persatu, benahi banjirnya, macetnya, bahkan 2 minggu lalu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, sudah tidak boleh memanfaatkan air tanah, karena dampaknya tanah amblas (subsiden),” papar Tarsoen.
Sampah didarat hampir sama banyaknya yang ada disungai, mestinya tidak harus terjadi, apabila musim hujan tiba biasanya sampah kiriman dari Depok dan Bogor hingga 300 truck dari manggarai dikerahkan untuk mengangkut sampah kiriman tersebut.
” Tapi yakin kalo saya jadi Gubernur, apa yang dikatakan sekarang ini, saya tangkap dan besok saya kerjakan, tapi kondisinya apa, DKI Jakarta menyewa Bantar Gebang 124 Milyar pertahun, kalo itu dipindah ke Muara Gembong cukup 200 Milyar dapat punya tanah 1000 Ha,” Tegas Tarsoen Waryono. ( suarajabarsatu.com / Hendra )





