SUARAJABARSATU.COM | Bogor – Sapi Pasundan merupakan ternak khas dan asli Jawa Barat. Sapi tersebut lebih adaptif dengan alam dan sosial di Jawa Barat. Adaptif dengan alam karena sapi tersebut tahan penyakit, reproduksinya bagus, kualitas dagingnya juga lebih bagus. Selain itu, persentase karkas lebih tinggi dibandingkan sapi lainnya, meski performa (bentuk) tubuhnya kecil.
“Sapi Pasundan memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil jika dibandingkan dengan sapi lokal lainnya, kondisi ini memberikan keuntungan bagi peternak karena dengan bentuk tubuh yang kecil maka dalam pemeliharaan tidak memerlukan lahan yang luas dan jumlah pakan yang relatif lebih sedikit,” ujar Widyaiswara (Pengajar) BBPKH, drh. E Nia Setiawati, MP., Senin (14/01/2018).
Penampilan sapi Pasundan di Kabupaten Garut jantan panjang badan 119,97 cm, dan pada Sapi Pasundan betina 108,62 cm. Tinggi pundak Sapi Pasundan jantan adalah 114,98 cm dan pada Sapi Pasundan betina 107,97 cm. Lingkar dada Sapi Pasundan jantan adalah 149,85 cm dan pada Sapi Pasundan betina 136,25 cm.

“Keunggulan lain dari Sapi Pasundan adalah persentase karkas yang tinggi , rata-rata proporsi karkas Sapi Pasundan jantan 53% dan betina 52%, sedangkan proporsi non karkas yaitu 48% untuk jantan dan 47% untuk betina. Performa reproduksi sapi Pasundan cukup baik dengan ditandakan mampu beranak setiap tahun, hal tersebut menunjukkan bahwa masa birahi sapi Pasundan tidak terpengrauh oleh kondisi musim yang berkembang,” kata Nia.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari para peternak yang tergabung dalam Ketua Kelompok Ternak Rundayan Sawargi ( Bapak Kocin) di Desa Karya Mukti Kecamatan Cibolang mengemukankan bahwa sapi Pasundan memiliki rentang produktivitas yang cukup panjang dimana sapi Pasundan mampu beranak sampai 23 kali semasa hidupnya, namun secara umum jumlah beranak induk sapi Pasundan berkisar antara 10 – 20 kali.
“Semoga tulisan ini dapat memotivasi pembaca untuk berperan aktif dalam pelestarian dan peningkatan kualitas sapi Pasundan , sehingga dimasa yang akan dating sapi tersebut memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan mengembangkannya menjadi komoditas yang diandalkan dalam penyediaan bibit ternak di Jawa Barat khususnya dan Indonesia umumnya,” tutupnya.





